Hubungi Kami : 031-3811966
prof-dr-m-amin-abdullah-beri-pencerahan-fresh-ijtihad-di-kuliah-perdana-pascasarjana-umsurabaya

Universitas Muhammadiyah Surabaya, pada hari Ahad tanggal Dua Puluh Tiga bulan Februari tahun Dua Ribu Dua Puluh telah mengadakan Kuliah Umum dengan tema “Fresh Ijtihad (Manhaj Pemikiran Keislaman di Era Disrupsi).” dengan narasumber Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah (Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang dilaksanakan di Ruang Auditorium Gedung At – Tauhid Lantai 13 UMSurabaya pada pukul 12.30 WIB s.d Selesai yang di moderator oleh Dosen kita (Dosen Pascasarjana) Bapak M. Fazlurrahman Hadi, Lc., M.Pd.I. Peserta meliputi mahasiswa pascasarjana maupun mahasiswa dari fakultas agama islam universitas muhammadiyah Surabaya. Selain mahasiswa, para dosen baik dari FAI maupun dosen Pascasarjana juga tak melewatkan untuk mengikuti kuliah umum ini.

Pada kesempatan kali ini Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah membuka dengan pernyataan “Fresh Ijtihad: Relevansinya dengan Muhammadiyah. Ijtihad ada yang belum fresh?.100 tahun Muhammadiyah. “Innallah yab’atsu li hadzihi al-ummah a’la ra’si kulli miati sanah man yujaddidu laha dinaha”, Pemahamana keagamaan Muhammadiyah yang ”beririsan” dengan paham keagamaan al-Jamaat al-Mutatharrifah (intoleran, Ekstrimism; Radicalism; terrorism). Pemahamana Amar makruf nahi mungkar. Dikritik oleh MUSA-MURSAI. Muhammadiyah tidak masuk wilayah ke nahi mungkar.

Beliau menambahkan “Islam berkemajuan telah menjadi jargon bagi Muhammadiyah. Bagaimana Islam berkemajuan dijadikan sebagai ruh, spirit sekaligus perspektif dalam manhaj gerakan Muhammadiyah? Lebih-lebih Muhammadiyah sebagai gerakan modernis-reformis telah memiliki identitas yang kokoh dan menjadi watak yang kuat yakni tajdid.” Banyak hal yang beliau paparkan, dalam pembahasan tersebut, semua peserta mendengarkan, memahami dan menelaah apa yang disampaikan dalam kuliah umum ini, tak luput dari banyaknya pertanyaan yang diajukan disaat sesi Tanya jawab.

Bagaimana Globalisasi lewat akses internet membentuk dinamika kelompok Islam (Muslim) konservatif di Indosesia paska 9/11/2201? beliau menjelaskan bahwaperubahan politik dan akses internet meliputi Reformasi polotik 1998: memberi ruang lebih luas untuk kemerdekaan menyampaikan pendapat dalam hal apapun termasuk identitas agama.

Kasus Islam: berbagai macam ideologi berbasis Islam (Islam-based ideology) mengubah bentuk menjadi partai-partai polotik, organisasi masyarakat sipil, gerakan budaya, gaya hidup urban (Urban lifestyles) dan hiburan (entertainment).

Penetrasi Internet dan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) pada tahun 2000 an melahirkan bentuk ruang publik baru melalui cyberspace dan berakibat pada pembentukan identitas Islam (Islamic identity).

Dengan kehadiran internet, paham keagamaan konservatif yang mengglobal memperoleh jalan lapang untuk sampai ke orang-orang dan organisasi islam yang ada di Indonesia.

Internet memainkan peranan penting dalam memfasilitasi percepatan komunikasi antara Islamic konservatisme/intolerant/extremist/radicalist/terrorist untuk berhubungan satu dan lainnya, menyebarkan informasi melalui mailing list dan websites dan pada akhirnya berpengaruh terhadap bangkitnya dan menyebarnya paham konservatisme Islam di Indonesia sejak tragedy 9/11/2001.

Para peserta begitu antusias untuk mengkaji buku tersebut. Beliau menuturkan bahwa buku “Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi adalah salah satu sumbangsih penting dalam menerjemahkan dan mengisi konsep Islam Berkemajuan Muhammadiyah dengan Pendekatan filsafat keilmuan modern”. Maka dari itu semoga dengan memahami buku tersebut diharapkan dapat membawa manfaat yang luar biasa. Begitu menarik materi yang disampaikan hingga waktu yang tersedia tak cukup bagi para peserta, namun waktu juan yang mengakhiri pertemuan kali itu adalah wadah yang nantinya memberikan ruang bagi anak-anak muda mengembangkan talentanya, khususnya di bidang profesi yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0.

Bagikan Melalui