Hubungi Kami : 031-3811966
jika-beda-pendapat-bertentangan-pakai-saja-prinsip-lakum-dinukum-wa-liyadiin

Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) menggelar Studium General di At Tauhid Tower, Ahad (29/9/2019).

Agendanya bedah buku berjudul Populisme, Demokrasi, Multikulturalisme  Artikulasi Baru Islam di Indonesia dalam Nalar Agama Publik karya Prof Dr Samsul Arifin MSi.

Direktur Pascasarjana Prof Dr Abd Hadi MAg dalam sambutannya mengatakan, mengutip surat al Baqarah ayat 143, konsep ummatan wasathan. Konsep ini  juga pernah disampaikan oleh mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr  Din Syamsuddin sebagai Islam jalan tengah.

Contoh populisme di Indonesia, kata dia, tampak dalam kasus penistaan ayat suci Alquran oleh mantan gubernur Jakarta.  ”Begitu juga dalam demo mahasiswa Kamis (26/9/2019) ada warna itu.  Artinya, umat Islam besar kontribusinya dalam memperjuangkan negara ini,” ujarnya.

Sementara Wakil Rektor III Dr Mahsun Jayadi MAg menjelaskan, kehidupan yang sarat perbedaan. Ada ikhtilaf tanawwu yaitu perbedaan yang masih sangat mungkin untuk didiskusikan.

“Namun terkadang kita saja yang kurang paham. Semisal perkara qunut atau tidak sehingga ribut dan menghilangkan himmah di antara kita,” ujarnya.

Namun ada ikhtilaf tadhad, lanjutnya. Yaitu perbedaan yang bertentangan maka ini perlu kembali kepada asas lakum dinukum wa liyadiin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

“Mengambil pernyataan dari Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah yang mengatakan Muhammadiyah sesungguhnya dalam arena politik kekuasaan adalah yatim piatu, nyaris tak berdaya. Meski dalam politik kebangsaan Muhammadiyah mengerjakan sekian banyak AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) yang merupakan pilar dari NKRI,” ujar Mahsun. (*)

Sumber : https://pwmu.co/

Bagikan Melalui