Titik Oksigen itu di Lahan Pak Misnabi


IMG_5295

Setelah menempuh perjalanan selama empat sampai lima jam dari Surabaya, sampailah kami di kota Sumenep. Kehadiran kami sudah ditunggu tiga puluhan mahasiswa alumni S2 PBSI Universitas Muhammadiyah Surabaya. Mereka menunggu di hotel Safari tempat kami menginap sebelum menuju ke Pulau Giliyang. Pukul 22.00 satu demi satu mahasiswa meninggalkan hotel menuju rumah masing-masing. Pukul 24.00 kami baru istirahat, padahal esok pagi bakda subuh kami harus melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Dungkek.

Perjalanan dari hotel Safari menuju Pelabuhan Dungkek sekitar satu jam. Selama dalam perjalanan tidak henti-hentinya kami menikmati udara segar serta pemandangan daerah Sumenep yang cukup mencengangkan. Ada satu pemandangan yang sangat baru bagi kami, yakni hampir di setiap rumah terdapat makam. Ada yang makamnya baru satu, ada yang dua, ada yang makamnya tiga, lima, sepuluh, dan ada yang sudah dua puluh. Selain itu, kami juga menyaksikan banyaknya sabut kelapa yang menumpuk tertata rapi hampir di sepanjang jalan menuju Pelabuhan Dungkek.

Di pelabuhan Dungkek Kapal yang bernama Sriwijaya yang mampu memuat 40 orang yang sudah dicarter oleh mahasiswa sudah siap menyeberangkan kami. Satu persatu dari kami memasuki kapal tersebut, yang terlebih dahulu kami memarkirkan kendaraan yang kami tumpangi sebelumnya untuk menginap di Pelabuhan Dungkek selama satu malam.

Perjalanan dari Pelabuhan Dungkek menuju Pulau Giliyang ditempuh kurang lebih satu jam. Perjalanan cukup menegangkan karena angin di akhir Juli lumayan kencang sehingga membuat kapal Sriwijaya bergoyang-goyang di tengah lautan. Ada yang wiridan terus, ada yang teriak-teriak gembira. Ada yang pucat pasi dan ada yang biasa-biasa saja. Turun dari kapal kemudian menuju rumah tempat singgah selama di Pulau Giliyang ditempuh dengan berjalan kaki. Selain tidak jauh, karena memang tidak ada kendaraan umum yang lalu lalang di pulau ini.

Setelah mendapatkan pembagian kamar, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata, yakni Gua Sarepa, Gua Air, Titik Oksigen, Batu Cangga seperti ini tempatnya.

Gua Sarepah

Mengelilingi Pulau Giliyang yang luasnya sekitar 10 km ditempuh dengan mengendari odong-odong seperti ini.

odong-odong

Tidak banyak trasnportasi di pulau ini, hanya ada beberapa sepeda motor dan motor-motor tersebut pada umumnya tidak bernomor plat.

Kami sangat penasaran dengan keberadaan oksigen kadar tinggi tersebut. Ternyata oksigen dengan kadar tinggi itu berada di lahan Pak Misnabi yang terletak di desa Bancamara Pulau Giliyang kecamatan Dungkek Sumenep. Bancamara adalah salah satu dari desa yang terdapat di pulau Giliyang, desa yang satunya bernama Banraas.

Pada tahun 2006 lalu, peneliti dari Pusat Pemanfaatan Saint (LAPAN), mencatat kandungan oksigen di Pulau Giliyang mencapai 21 %. Angka itu menunjukkan kandungan oksigen yang luar biasa alias di atas rata rata baku normal di sebuah daerah yang tidak terkontaminasi adanya pencemaran. Hasil penelitian LAPAN itu kemudian dimutakhirkan oleh  Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLP) Surabaya,  dengan melakukan survei di sejumlah titik yang sebelumnya pernah dilakukan penelitian oleh tim LAPAN.

Peneliti BPTKLP Surabaya yang beranggotakan 9 orang menemukan kadar oksigen di pulau tersebut tepatnya pukul 11.00, menunjukkan angka yang sangat signifikan, yakni 20,9 % untuk kadar oksigen lebih tinggi dari baku normal. Sedangkan kandungan karbondiogsida (CO2) mencapai 30,2 % lebih rendah dari baku normal 38,7 %. Pengukuran kedua dilakukan tepat pukul 11.45, saat kondisi udara sangat bagus kadar oksigen mencapai 21,5%, sementara kadar CO2nya menurun menjadi 26,5%.

Pak Misnabi pemilik lahan yang memiliki titik oksigen dengan kadar oksigen lebih tinggi dari baku normal, sampai saat ini lahan ini masih menjadi miliknya. Setiap pengunjung yang hadir hanya dikenai tarif Rp2.000,00 (dua ribu rupiah) sekali datang selama 24 jam. Uang itu langsung diberikan kepadanya. Pengunjung diperbolehkan datang kapan pun tanpa dibatasi waktu. Istri Pak Misnabi adalah seorang ibu yang menjual makanan kecil khas Bancamara di dalam sebuah warung yang sangat sederhana. Bu Misnabi ini menjual makanan khasnya yaitu rujak. Jangan dibayangkan rujak itu seperti rujak yang ada di Surabaya misalnya rujak cingur, rujak yang dijual ini terdiri atas lontong yang dibungkus dengan pastik dan mie dan diberi bumbu serta kuah.

Belum terdapat fasilitas apa pun di lokasi ini, hanya ada tempat duduk yang sangat sederhana, tidak ada listrik sehingga malam hari tampak gelap. Penerangan hanya mengandalkan panel surya dan jenset yang dinyalakan menjelang maghrib sampai lampu itu bahan bakarnya habis. Jadi jangan minta minum dengan es batu di Pulau Giliyang ini, karena sangat sulit terpenuhi. Masyarakat di sini tidak ada yang punya kulkas. Jaga HP supaya tidak habis baterainya sebelum maghrib karena tidak akan bisa mengecas. Namun, rumah milik masyarakat Bancamara Pulau Giliyang ini bagus-bagus, besar dan luas karena didirikan dengan bahan yang sangat berkualitas yang didatangkan dari Sumenep.

Setelah berkeliling Pulau Giliyang kami pun kelaparan, Alhamdulillah makanan sudah siap untuk dinikmati.

makan