Sekilas Pandang tentang Makna Kata“Character Building”


Building-Character

Oleh : Wiwit Wahyutiningsih, S.Ag, M.Pd.I
(Alumni Pasca Sarjana S2 PAI UMS)
email : wiwitwahyutiningsih@gmail.com

Pendidikan karakter di berbagai sekolah di Indonesia sudah mendapatkan perhatian bahkan telah menjadi prioritas. Meski demikian, sejauh mana pendidikan karakter ini dapat dirancang sebagai bagian yang terintegrasi dalam pendidikan formal. Tulisan ini membahas tentang pentingnya pembelajaran Character Building sebagai bagian dari pendidikan karakter dalam sistem pendidikan formal. Bahwa Pendidikan Character Building telah tersusun dengan sangat apik Guna membangun Karakter/kepribadian setiap insan/individu. Meski demikian dalam penerapan, perancangan dan pelaksanaan program belumlah banyak mengena pada semua anak-anak baik di rumah dan sekolah.

Dalam hal ini patutlah kita cermati dan kita telaah kembali betapa pentingnya pendidikan karakter masuk dalam kurukulum sebagai satuan mata pelajaran. Namun itu sudah dilakukan atau di upayakan oleh pakar penyusun buku. Akan tetapi mengapa masih saja terjadi suatu hal-hal yang menyimpang dari perilaku anak-anak baik di sekolah maupun di masyarakat. Padahal pendidik (guru) sudah maximal mengajarkannnya dengan kemasan yang sudah dipelajarinya di rumah petang hari dengan harapan perubahan baik.

Dewasa ini masalah pendidikan bukan saja usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran di ruangan. Pendidikan juga tidak sekedar sadar interaksi melalui media elektronik agar anak-anak secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan baik dalam hal moral, pengendalian diri, kepribadian maupun keterampilan yang ada pada dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Sehingga mempunyai dampak yang sangat berpengaruh pada perkembangan peserta didik akan terbentuknya karakter yang baik, bermartabat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Haruslah terus dikaji ulang melalui tim sebagai salah satu upaya untuk melakukan perbaikan terus menerus (continuous improvement).

Salah satu contoh hal yang selalu kita lihat bersama, disetujui atau tidak…disengaja atau tidak disengaja dalam pengerjaan ujian nasional sebenarnya tidaklah harus terjadi hubungan antara peserta didik dan pihak sekolah selalu memberikan sesuatu yang sangat mengejutkan kepada wali peserta didik berupa nilai yang kadang tidak sesuai dengan kemampuan peserta didik. Sangat disayangkan bila ada suatu model paralel pengisian disaat ujian nasional. Meski semua tahu bahwa itu adalah suatu perbuatan yang sangat mempengaruhi moral semua anak bangsa. Dengan berbagai cara dilakukan untuk dapat nantinya memegang kartu sebuah pujian baik nama sekolah dan berpredikat nilai com laud.

Mari semua bertepuk tangan untuk kemenangan ini namun lihatlah ke depan beberapa tahun mendatang akan ada tumbuh generasi kebohongan yang akan merusak moralnya sendiri juga menularkan virus yang sangat mamatikan semangat kejujuran. Apakah anda bangga?(silahkan tidak ada yang memaksa)….tindakan itu adalah suatu hal yang sudah merusak karakter anak bangsa. Makanya tidak salah apabila tindakan yang seperti itu akan sulit untuk dihilangkan sampai anak cucu. Karena sudah terbiasa dan sudah dianggap hal yang biasa-biasa saja. Sehingga sesuatu yang negatif berubah menjadi positif.

Dari berbagai permasalahan yang ada, baik melalui tayangaan televisi maupun secara langsung dengan mata kepala sendiri.Ada suatu pertanyaan di hati sanubari kita sebagai manusia….apa yang sedang terjadi dengan bangsa kita?’. Pertanyaan yang sama muncul ketika kita mengetahui berbagai tindak asusila yang banyak merusak kepribadian anak-anak dari mulai remaja hingga dewasa benar-benar membuat kita miris. Sebagai orangtua rasanya belum cukup hanya melihat saja tidak bertindak dengan baik. Pemberantasan korupsi nan KKN, tawuran, narkotika dan lain-lainnya baik di lingkungan pemerintah sendiri, dan perusahaan swasta. Apa yang kita dengar dan lihat tersebut mengacu kepada satu hal, yaitu karakter.

Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter bagi kalangan anak-anak Indonesia menjadi sangat penting. Meskipun agaknya kita terlambat dalam menerapkan pendidikan karakter ini, namun masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita masih banyak berharap anak-anak generasi penerus bangsa kita yang duduk di bangku sekolah kelak akan menjadi orang yang tidak saja cerdas secara intelektual tetapi juga berkarakter. Perubahan yang setiap saat dapat terjadi itulah…sangatlah diperlukan berbagai upaya nyata terhadap pengembangan dan kemajuan sumber daya manusia khususnya dalam bidang pengembangan mutu untuk memenuhi kualifikasi dan peningkatan karakter pada diri sendiri.

Dunia pendidikan diharapkan menjadi motor penggerak, berpacu dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang teknologi informatika yang selalu menyajikan berbagai macam sumber pengetahuan yang baru melalui media-media on line. Tingkat Kemajuan di setiap sekolah baik swasta maupun negeri memacu untuk menyajikan kemampuan kompotensinya dengan harapan meningkatkan kualitas pendidikan yang di ajarkan, dengan kata lain setiap lembaga pendidikan berupaya menyajikan kemampuan kompetensi dan karakter sehingga dapat mendukung sistem pendidikan yang baik.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional befungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini bisa disadari dengan meningkatnya persaingan yang begitu komplek. Ada tiga ranah yang harus dikuasai oleh anak-anak, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi, ranah afektif berkaitan dengan moralitas, spirit, dan karakter, sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan

Oleh karena itu Pentingnya pendidikan character building diharapkan juga dapat memberikan dampak positif dalam menghadapi berbagai situasi apapun yang dapat menimbulkan stres. Seorang merasa tertekan dengan berbagai kondisi baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sosial. Sebab itu, pendidikan karakter diharapkan dapat memberi pengaruh meningkatkan, memperbaiki, mengubah tata cara, keterampilan dan sikap serta tata laku seseorang dan membentuk kepribadian bagi diri sendiri juga buat orang banyak di lingkugan masyarakat.

Kata “karakter” mempunyai banyak sekali definisi dari para ahli. Menurut Poerwadarminta, kata karakter berarti tabiat, watak sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Lebih jauh seorang tokoh psikologi Amerika yang bernama Alport, mendefinisikan karakter sebagai penentu bahwa seseorang sebagai pribadi (character is personality evaluated). Sedangkan menurut Ahmad Tafsir menganggap bahwa karakter yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia, sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Dengan makna seperti ini berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri atau karakteristik atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan sejak lahir.
Sedangkan kata “Building” adalah membangun yang mempunyai sifat memperbaiki, membina, mendirikan. Jadi Charakter Building (membangun karakter) adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, mamperbaiki dan membentuk tabi`at, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berdasarkan nilai-nilai pancasila yang berlandaskan pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

David Elkind dan Sweet (2004) menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya untuk membantu peserta didik memahami, peduli, dan berperilaku sesuai nilai-nilai etika yang berlaku. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya
Guru merupakan kunci bagaimana meletakkan porsi yang sebenarnya , dimana anak-anak mencontoh dari setiap perilaku yang selalu ditonjolkan dihadapan anak-anak baik disengaja maupun tidak sengaja. Mereka sering sekali mengawasi untuk bisa menjadi seperti gurunya. Makanya tidak jarang dari anak-anak bila denasehati gurunya selalu digugu dan ditiru. Meskipun seberapa orangtua mengingatkan kamu harus begini dan begitu….akan tetapi apa yang terlontar dari mulutnya….tidak lain dan tidak bukan pasti anak-anak mengatakan “ kata bu guru harus begini”.
Itulah mengapa figur sang guru selalu menjadi andalan anak-anak. Disini betapa pentingnya membangun karakter dalam mencerdaskan anak bangsa sebagai generasi yang bermoral dan berAgama, mulia dan insan kamil. Maka karakter manusia merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perjuangan berbangsa dan bernegara guna terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur dan beradab.

REFERENSI

Koesoema, D. A. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius.
Meyer, J. (2004). Alih Bahasa Agus Sukwanto: Cara untuk Sukses Menjadi Diri Sendiri. Jakarta: Interaksara.
Meyer, J. (2011). Battlefield of the Mind (Pikiran adalah Medan Perang). Jakarta: Immanuel.
Naim, N. (2012). Character Building. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suseno, M. F. (2004). Etika Abad Kedua Puluh. Yogyakarta: Kanisius.
Wibowo, A. (2013). Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi Membangun Karakter Ideal
Mahasiswa di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Aunillah, Isna, Nurla. (2011), Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta: Laksana.

Dibaca : 25,270 pengunjung.