Refleksi Kemerdekaan 17 Agustus “Melunasi janji Kemerdekaan”


blog_Seperti-Inilah-Cara-Generasi-Muda-Mengisi-dan-Memaknai-Kemerdekaan_825x355px

Oleh : Maulana Malik

Tepat 17 Agustus ini, Indonesia genap berumur 71 tahun. Usia yang bisa dikatakan cukup matang untuk sebuah negara. Momentum 17 agustus bukan hanya sekedar seremonial belaka, akan tetapi untuk melunasi janji mensejahterakan, memebrikan keadilan, dan memakmurkan bangsa ini dengan mengisi kemerdekaan bangsa ini yang ke 71 tahun, maka siapapun kita, marilah kita terus berkontribusi dalam membangun Indonesia dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, tentunya dengan cara-cara kita yang beragam. Para pendidik harus terus berusaha mendidik anak bangsa dengan sebaik-baiknya, para politisi harus terus berusaha menghasilkan kebijakan publik yang efektif dan bermanfaat, juga para pemuda yang harus terus berinovasi dan berkiprah dalam pembangunan negara, semuanya harus bergerak untuk melunasi janji kemerdekaan dan memajukan bagsa.

Harus diakui, masih banyak kekurangan yang dimiliki bangsa. Kita masih sering mendengar kritikan-kritikan yang dilemparkan kepada para pemimpin, cendekiawan, konglomerat, juga para pemuda bangsa. Tidak sedikit yang mengkritisi rusaknya sistem yang sudah mengakar dan hancurnya karakter anak bangsa.

Perjuangan tidak hanya terhenti sampai dengan kemerdekaan. Merdeka hanyalah sebuah jambatan emas untuk mewujudkan Indonesia yang bermartabat dan makmur. Bung Hatta pernah berpesan, “Indonesia merdeka bukanlah tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat”

Dalam menciptakan generasi emas dan melunasi janji kemerdekaan, terfokus pada pendidikan membangun mental dan karakter pemudanya, karena akhir-akhir ini fenomena wajah pendidikan tercoreng oleh baik tenaga pendidiknya sendiri maupun siswanya sendiri. Pendidikan merupakan jembatan mencerdasarkan generasi bangsa, pendidikan memiliki peranan yang begitu penting dalam kemajuan negeri ini. Apabila masyarakat memiliki pendidikan yang lebih baik maka kita tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain bahkan oleh negara lain.

Pendidikan merupakan bekal utama dalam kehidupan, dengan pendidikan kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan, akan tetapi kondisi pendidikan saat ini bisa dikatakan sangat memperihatinkan, dimana moral dan sopan santun siswa masih sangat rendah, banyak dari para pelajar yang suka tawuran dengan sesama pelajar, tindak kekerasan, bahkan mereka tidak lagi memliki rasa malu berpegangan tangan dengan lawan jenisnya di tempat umum, hal ini didasari karena kurangnya moral serta akidah para pelajar.

Banyak yang menjadi faktor kurangya moral pelajar saat ini, salah satu yang mempengaruhi krisis moral para pelajar saat ini adalah peranan gadget dan kurangnya interaksi anak dengan orang tua. Dengan gadget para pelajar bebas membrowsing hal-hal yang dinginkan, rasa sosialisasi terhadap hal-hal disekitar menjadi berkurang diakibatkankan mereka terlalu sibuk dengan mengurus gadget bahkan sampai lupa dengan keadaan disekelilingnya. Dalam hal ini peranan orang tua dan guru sangat menentukan moral serta sopan santun para siswa, orang tua bisa melakukan pendekatan-pendekatan terhadap anaknya bahkan orang tua bisa berperan sebagai sahabat anaknya tersebut, dengan demikian anak akan merasa diperhatikan dan gampang menyampaikan perasaan yang dialaminyaa saat itu.

Bukan hanya seorang murid yang mengalami krisis moral bahkan dizaman sekarangpun ada seorang guru yang memiliki krisis moral dan akidah. Seorang guru ini tega mencabuli sisiwinya, miris sangatlah tidak patut dicontoh guru seperti ini yang tidak memegang teguh etika sebagai pendidik bagi anak didiknya bukannya mencerdaskan generasi penerus bangsa ini, malah merusak generasi dan masa depan anak didik. Guru seperti inilah yang dikatakan krisi moral dan akidah. Kira-kira apa yang mendasari seorang guru sehingga tega berbuat sekeji itu, tak lain dan tak bukan karena krisis moral serta akidah dari seorang guru tersebut serta kurangnya menghayati tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang mulia. Guru yang baik tidak sepaputnya melakukan hal-hal seperti demikian. Kita merupakan contoh bagi mereka, berilah contoh yang baik agar anak didik kita dapat mengambil contoh dari gerak-gerak, tutur kata serta tingkah laku. Murid yang berkarakter adalah hasil dari guru yang hebat.

Anak-anak harus ditanamkan pendidikan moral serta akidah yang bagus sejak dini, agar mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, seorang guru tidak akan mampu menciptkana siswa yang berkarakter dengan sendirinya, orang tua dan guru harus bekerja sama dalam pendidkan karakter anak yang hebat. Dengan adanya kerjasama yang baik antara guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah maka saya yakin tidak ada anak Indonesia yang akan mengalami kegagalan dan krisis moral. Yang ada hanyalah murid berkarakter, berprestasi, budiman, bermoral serta berakhlak mulia membawa nama baik bangasa Indonesia.

Selamat menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71, semoga kita bisa melunasi janji dan mengisi kemerdekaan, Dirgahayu Indonesia.

Dibaca : 15,907 pengunjung.