Menyelaraskan Jiwa Keilmuan dan Badan PTM yang Berkemajuan


Catatan Ringkas BAITUL ARQOM di UMSurabaya.

Kemajuan dalam pendidikan, khususnya di Pendidikan Tinggi Muhammadiyah selalu ditopang akan dua hal yang saling bersinergi, yaitu basis keilmuan yang kuat dan semangat memajukan potensi pengembangan PTM dari berbagai lini.

IMG_20160620_113043

Pernyataan tersebut tertangkap jelas dalam serangkaian diskusi BAITUL ARQOM yang bertemakan ” Peningkatan Kinerja Dosen dan Tenaga Kependidikan ; Menuju PTM yang Berkemajuan” di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Senin, 20 Juni 2016.

Sebenarnya dalam tiap jenjang pendidikan bahkan eksistensi sebuah organisasi, kedua hal tersebut menjadi penopang keberlanjutan dan pengembangan sebuah lembaga, termasuk pula institusi pendidikan. Tanpa basis jiwa keilmuan yang kuat, pendidikan akan kehilangan ruh dan arah tujuannya. Sementara tanpa semangat memajukan potensinya, pendidikan akan diam di tempat dan pada akhirnya akan tertinggal atau ditinggalkan.

Sisi urgensitas keduanya juga dapat ditangkap saat lagu Indonesia Raya karya W.R Supratman digaungkan bersama. Pada saat lirik “Bangunlah jiwanya….Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya”. Diksi membangunkan jiwa, dan ini yang pertama, menjadi basis penting perjuangan. Sejurus kemudian membangunkan gerak fisik (badan) menjadi titik temu ruh yang siap bergerak, berubah, dan berjuang. Keduanya bak dua sisi koin yang bukan saja penting, namun tak bisa dipisahkan.

Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki dedikasi yang tinggi guna menyinergikan kedua urgensitas tersebut. Melalui Baitul Arqom, salah satunya, UMSurabaya hendak merefleksikan kembali elan juang civitas akademika agar terus berada dalam on the right track dan semakin melesat maju.

Basis Jiwa Keilmuan

Hadir sebagai pemateri pertama adalah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof. Dr. Sa’ad Ibrahim, M.A. Melalui tema diskusi ” Mengembangkan Islam Berkemajuan di PTM”, Sa’ad menjelaskan sisi urgensitas basis keilmuan dengan detail. Bahwa dalam Islam Berkemajuan, khususnya di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini perlu memperhatikan empat hal.

Pertama, Al-Quran sangat bersifat saintifik. Posisi al-Quran sebagai sumber utama dan pokok Islam, sekaligus sebagai pedoman hidup mesti terus digali nilai sainsnya. Bukan saja bersifat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan, Al-Quran justru menjadi sumber sains modern. “Hiraukan saja, jika ada yang mengatakan hal ini mencocok-cocokan”, tandas Sa’ad. Oleh karena itu, mengembangkan keislaman di PTM perlu dan selalu melakukan riset serta observasi berlandaskan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran.

Kedua, SDM dosen harus minimal S3. Sa’ad beranggapan bahwa mengembangkan Islam Berkemajuan di lingkungan PTM tidak bisa mengabaikan status akademik SDM dosennya. Kualifikasi pendidikan doktoral (strata tiga) sudah harus dijadikan target institusi. Universitas harus mendorong, memotivasi, bahkan memberikan insentif guna keberlanjutan pendidikan akademik dosen PTM.

Sa’ad memberikan ibrah mengenai sikap Jepang pada pendidikan yang bisa cepat bangkit dari keterpurukan akibat Bom Nuklir, karena atensi Jepang pada para pendidik. Israel juga, lanjut Sa’ad, memiliki gairah akademik yang kuat. Saat Israel merdeka di Tahun 1948, mereka telah memiliki 16.500 doktor, sementara di Indoensia saat merdeka Tahun 1945 baru memiliki doktor kurang dari 60. Kualifikasi kepakaran pendidikan butuh menjadi agenda kinerja penting PTM.

Ketiga, Pilar ekonomi yang mem-back up pendidikan. Kondisi perekonomian yang stabil dan cenderung membaik memang sangat dibutuhkan PTM untuk berkembang. Namun hal yang lebih penting adalah keberpihakan ekonomi dalam proses pendidikan. Sa’ad mengambil contoh kebijakan beberapa khalifah dalam proses penerjemahan karya klasik Yunani dengan insentif yang besar. Bahkan khalifah Abbasiyah Al-Makmun (786-833 M), pendiri lembaga riset “Baitul Hikmah” mengundang dan mendukung para sarjana Yahudi, Kristen dan Islam untuk menerjemahkan manuskrip Yunani ke dalam bahasa Arab, pernah memberikan insentif pada Hunain bin Ishaq (808-877 M), seorang pengawas Baitul Hikmah sekaligus salah seorang penerjemah terbesar karya klasik ke Bahasa Arab, berupa emas seberat buku yang diterjemahkannya.

Keempat, Sikap keterbukaan Islam. Menurut Sa’ad, dalam merespons ilmu pengetahian, Agama dapat diklasifikasikan menjadi dua sikap, yaitu Tertutup dan Terbuka. Sikap tertutup ditampakkan saat agama bernilai hal-hal yang bersifat tetap dan pasti (al-thawabit) sementara sikap terbuka ditunjukkan sebagai apresiasi terhadap ilmu pengetahuan yang datang dari luar Islam di bidang yang memang bukan bersifat tetap dan cenderung berubah (al-mutaghayyir).

Akumulaasi dari spirit Quran yang saintifik, kualifikasi doktoral para dosen, keberpihakan pilar ekonomi yang mem-back up pendidikan, serta keterbukaan Islam diharapkan mampu menjadi ruh dan basis jiwa keilmuan di nuanasa akademis UMSurabaya.

SPIRIT PENGEMBANGAN POTENSI PTM

Melengkapi pemateri pertama, diskusi berikutnya menghadirkan sosok penting dalam tumbuh-kembang dunia pendidikan khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Prof Dr Muhajir Efendi, M.Ap selaku Ketua PP Muhammadiyah. Tema “Strategi Pengembangan PTM Berkemajuan” seakan memberikan ruang bebas yang aplikatif berdasarkan puluhan tahun mengembangkan berbagai perguruan tinggi.

Dalam beberapa statemen yang beliau paparkan, strategi pengembangan PTM meliputi tiga hal.
Pertama, menumbuhkan sikap bangga terhadap almamater. Pengembangan PTM harus dimulai dari seperangkat cara untuk membuat seluruh civitas akademik memiliki kebanggaan dengan PTM. Sikap “kecil hati”, inferioritas, dan cenderung “Melihat Rumput Tetangga Lebih Hijau” harus mulai dikikis. Pengikisan ini harus dilakukan dengan segenap cara. Muhajir meyakini bahwa UMSubaya memiliki ramuan tertentu untuk mendongkrak rasa bangga terhadap alamamater, terutama di kalangan mahasiswa.

“Menjadikan mahasiswa UMSurabaya bangga almamternya akan menjadikan mereka iklan PTM sebenarnya”. Karena mahasiswa dan alumni yang merasa bangga dengan PTM akan mengajak, minimal menjadi kader informasi, secara “gathuk tular” pada keluarga, saudara, tetangga dan temannya yang lain.

Kedua, gali potensi pengembangan PTM. Muhajir menyontohkan saat memimpin UM Malang, pengembangan potensi bisa berupa bangunan fisik dan ekspansi bisnis di sekitar PTM. Membangun hotel, pom bensin, dan rumah sakit misalnya meski awalnya mendapatkan penolakan dari beberapa pihak termasuk internal PTM, namun pada akhirnya Muhajir dipuji atas inisiasi pengembangan itu. UMSurabaya, lanjut Muhajir, memiliki potensi berkembang yang luar biasa. Berlokasi di jantung provinsi Jawa Timur, menjadikan ruang pengembangan UMSurabaya jadi kian besar.

“Beli tanah lagi di sekitar kantor PWM Jatim itu. Hutang gak apa apa kalau itu diperlukan. Juga, kuasai aset-aset di sekitar kampus, misal tempat tinggal dan wilayah industri”, saran beliau. Selain itu Muhajir berpesan, pengembangan potensi PTM harus tumbuh “dari dalam”, bukan tergantung dan menggantungkan “dari luar”.

Ketiga, bersinergi. Pengembangan apa pun, termasuk PTM, akan lebih terasa dan cepat dengan berjejaring, bersinergi dengan instansi atau pihak lain yang terkait. Dengan kampus Petra pun, sebagai salah satu kampus terbaik yang berideologi Kristen, jika dibutuhkan harus dilaksanakan. Termasuk dengan perguruan tinggi NU. “Islam di Indonesia itu kuat, kalau Muhammadiyah dan NU maju”, tandas Muhajir.

Perpaduan strategi pengembangan tubuh PTM tersebut, lanjut Muhajir, perlu didukung riset yang komprehensif mengenai “supliyer” PTM dengan mendata latar belakang pendidikan mahasiswa (mulai jenjang SD, SMP, SMA) di sekitar PTM, mendata daerah asal, up-grading instrumental PTM berupa seluruh civitas akademika, hingga serapan “out put” / alumni dalam dunia profesional.

Ke depan, Jalin kelindan antara jiwa keilmuan yang semakin matang, dan semangat pengembangan tubuh PTM yang kian menggebu menjadi basis transedental UMSurabaya dalam menapaki perkembangan menjadi “Kampus Sejuta inovasi”.

Dibaca : 35,907 pengunjung.